Contoh Latar Belakang Makalah, Skripsi, Proposal, Penelitian

contoh latar belakang

Contoh latar belakang masalah – Dalam membuat karya tulis sering kita diminta untuk membuat sebuah ulasan latar belakang masalah. Latar belakang masalah atau kadang hanya disingkat dengan istilah latar belakang mengandung awal mula dari sebuah pembuatan sebuah karya tulis. Awal mula yang dimaksud adalah hal yang menjadi landasan dalam penulisan karya tulis tersebut. Biasanya ini dikatakan menjadi sebuah masalah yang mana akan dicarikan solusi dengan menggunakan metode-metode tertentu.

Namun perlu diingat tak semua masalah bisa kemudian diangkat menjadi sebuah karya tulis, masalah yang dimuat pada latar belakang adalah masalah yang fenomenal dan menarik. Masalah ini biasanya merupakan sebuah kesenjangan antara harapan yang ideal dengan realita di kehidupan nyata. Hal ini dikenal dengan Das Sein dan Das Sollen. Ketika ada sebuah realita kehidupan yang tidak ideal dengan apa yang sebelumnya diharapkan disanalah sebuah masalah menarik untuk diangkat menjadi sebuah penelitian.

BACA JUGA: Contoh Abstrak Lengkap (Skripsi, Makalah, Tugas Akhir, Penelitian)

Dalam membuat latar belakang, masalah atau kesenjangan yang ditemui harus jelas. Selain itu harus memiliki teori yang jelas mengenai idealnya sesuatu terjadi dilapangan, sehingga kemudian dapat disusun menjadi sebuah latar belakang yang sistematis. Latar belakang dibuat secara runut agar memudahkan pembaca memahami inti permasalahan yang mana dibahas dengan menampilkan teoriteori terdahulu.

Berikut ini kami berikan berberapa contoh latar belakang dari berbagai karya tulis seperti, contoh latar belakang makalah, contoh latar belakang proposal, contoh latar belakang penelitian, dan contoh latar belakang Laporan PKL. Simak berbagai contoh latar belakang berikut ini.

Latar Belakang Makalah   

Berikut ini adalah contoh latar belakang makalah tentang Ekonomi. Simak contoh latar belakang makalah berikut ini.                

Latar Belakang Makalah Ekonomi  

Dalam suatu negara ada yang disebut dengan sistem perekonomian. Sistem perekonomian adalah sistem yang digunakan di suatu negara dalam mengatur sumber daya yang  ada bawah kekuasanaanya baik berupa perorangan maupun berupa instansi di daam negara tersebut. Perbedaan utama antara satu sistem ekonomi dengan sistem ekonomi yang lainnya adalah terletak pada bagaimana cara sistem itu mengelola faktor – factor produksinya. Dalam sistem tertentu, seseorang diperbolehkan untuk memiliki seluruh faktor produksi. Dan untuk sistem tertentu pula, seluruh faktor dimiliki oleh pemerintah.

                Sistem perekonomian di negara satu dengan negara lainnya tentu saja bebeda – beda. Sistem Perekonomian Pancasila adalah sistem perekonomian yang digunakan di Indonesia. Dimana sistemnya dibuat berdasarkan pada Pancasila, dan secara normatif menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasanidiil dari sitem perekonomian Indonesia.  

Perkembangan perekonomian suatu negara sangat bergantung dari cara kita mengolah dan menata sistem perekonomian itu sendiri. Perekonomian suatu negara tidak akan pernah lepas dari pasang surut terutama pada negara berkembang seperti Indonesia. Di Indonesia, sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam perkembangan ekonomi negara, karena setiap tahunnya pariwisata menyumbangkan devisa yang cukup besar untuk negara Indonesia.

Menurut Hornby dalam buku berjudul “Penyelenggaraan Operasi Perjalanan Wisata” (dalam M. Kesrul, S.E, M.B.A, 2003:3)  beliau mengatakan bahwa “Tour is a journey in which short stays are made at a number of places, and the traveller finally returns to his or her own place.” Yang artinya pariwisata adalah suatu perjalanan dimana seseorang dalam perjalanannya singgah sementara di beberapa tempat dan akhirnya kembali ke tempat asal, yang merupakan tempat ia memulai perjalanan. Kemudian  menurut Undang-undang No.9 Tahun 1990, Pariwisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari suatu kegiatan yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. Pariwisata sebenarnya memiliki berbagai macam pengertian, tergantung bagaimana setiap orang mengertikannya dan menyikapinya.

Pariwisata di Indonesia memberikan sumbangan yang sangat besar pada sektor perekonomian, dimana hampir di setiap tempat wisata di Indonesia, warga sekelilingnya telah dapat menaikkan taraf kehidupan ekonominya, guna demi kelangsungan hidup mereka. Dengan harapan industri pariwisata mampu bertahan dengan baik dan selalu mampu memberikan sumbangsih berupa devisa kepada negara. Maka tentulah diperlukan berbagai aspek pariwisata yang nantinya akan mendukung kinerja Pariwisata di Indonesia. Indonesia harus mampu menjalankan insustry pariwisata dengan kualitas yang baik. Dimana nantinya akan membuat sebuah kepuasan bagi turis yang datang ke Indonesia karena pelayanan yang diterima sangat luar biasa baik dari segi sarana prasarana, sumber daya manusia, serta kreatifitasnya mampu terus berkembang dari waktu ke waktu. Semua aspek tersebut akan dapat menunjang kualitas sebuah tempat wisata, dan secara otomatis akan ikut menyumbangkan devisa bagi sektor perekonomian di Indonesia. Maka dari itu kualitas adalah hal yang utama dan sangat penting. Maka dari itu hal tersebut akan kami bahas pada Bab selanjutnya.

Contoh Latar Belakang Proposal    

Berikut ini adalah contoh latar belakang proposal tentang Usaha Pakaian. Simak contoh latar belakang makalah berikut ini.                          

Proposal 1

Manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan tanpa batas, tidak pernah merasa puas dengan semua hal yang telah mereka dapatkan, mereka selalu menginginkan sesuatu yang lebih dan lebih. Kebutuhan Pokok manusia sebenarnya ada tiga yaitu: (1). Sandang, (2). Pangan, dan (3) Papan.  Sandang merupakan salah satu kebutuhan manusia yang mencerminkan gaya hidup manusia itu sendiri. Melalui sandang, manusia mengekspresikan diri mereka masing-masing sesuai dengan kepribadiannya. Sampai saat ini, sandang mengalami perkembangan yang sangat besar dan pesat, jutaan desainer menciptakan berbagai macam sandang untuk memenuhi kebutuhan manusia, mulai dari jenis pakaian tidur, pakaian seharihari, pakaian sekolah, kantor, pakain pertunjukan, dan lain sebagainya. Pakaian sejak zaman dahulu sudah menjadi trend di kalangan anak muda, dan dewasa, bahkan anak-anak dan orang tua pun juga begitu. Tingkat kemapanan seseorang menambah gengsi mereka dalam berpakaian, itu sebabnya desainer pakaian tidak akan ada matinya dalam berkreasi dan mengekspresikan ide-ide mereka.   Indonesia merupakan sebuah negara yang dimana merupakan pemilik suku terbanyak di dunia dan yang mana setiap suku memiliki pakaian adat sendiri yang menjadi ke-khasan dari masing-masing suku tersebut.  Maka dari itu ragam pakaian di Indonesia semakin bermacam-macam. Selain pakaian suku adat, Indonesia memiliki beragam jenis kain dari hasil karya pengrajin Indonesia. Kain yang dari zaman dahulu yang dikenal sampai sekarang, dan sudah merambah ke mancanegara adalah batik, batik merupakan salah satu jenis kain hasil karya pengrajin Indonesia. Awalnya batik di produksi di kalangan keratin, namun seiring perkembangan zaman produksi batik merambah ke berbagai kalangan, dan sampai saat ini batik telah menguasai produk pasaran di Nusantara. Selain batik banyak lagi kain-kain tenun khas Indonesia, namun belum memiliki kepopuleran seperti batik, itu disebabkan karena masih kurangnya usaha untuk mempromosikan kainkain hasil karya pengrajin tersebut. Kain-kain tersebut  diantaranya, kain ulos, kain tapis, kain sasirangan, kain gringsing, kain endek, dan masih banyak lagi kain lainnya.

 Endek adalah salah satu kain dari hasil karya pengrajin tenun Indonesia, Kain ini, sebenarnya keberadaannya ada  di berbagai daerah di Indonesia, namun kain endek khas Bali memiliki motif-motif tersendiri. Motif hiasan pada kain endek khas Bali terdiri dari unsur flora dan fauna, wayang, pohon merambat, wajik, serta kombinasi dari berbagai pola. Ada juga pola dari dongeng-dongeng suci atau mitologi Bali. Dengan banyaknya jenis motif ini, membuat kain endek semakin diminati pasaran. Dahulu di Bali kain endek hanya digunakan sebagai pakaian adat untuk upacara keagamaan. Hanya kalangan bangsawan dan tetua adat yang boleh mengenakan kain endek. Namun, kini kain endek sudah dikenal masyarakat dan hampir sebagian besar masyarakat Bali memiliki kain ini.   Termotivasi untuk ikut menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa, serta ikut berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan pasar akan sandang, khususnya kaos. Kami akan membuat sebuah kreasi dari kain endek khas tradisional Bali yg dipadukan dengan gaya yang modern. Biasanya, kain endek ini digunakan pada saat upacara adat Bali dan sebagai pakaian formal di kalangan pemerintah, sekolah, lembaga swasta, pengusaha-pengusaha, dan lain sebagainnya. Namun, kali ini kami akan memilih kaos sebagai bahan dasar utama dalam kreasi kami. Pemilihan kaos sebagai bahan dasar tidak lepas dari pertimbangan, bahwa kaos adalah salah satu jenis pakaian yang paling diminati di pasaran, pakaian yang satu ini merupakan pakaian yang sebagaian besar orang miliki. Sehingga, melihat dari keadaan pasar yang saat ini kaos yang hanya diwarnai dengan sablon, dan merek branded luar negeri, kami ingin mengangkat suatu kreasi yang baru, yaitu kaos modifikasi kain endek khas tradisional Bali. Dengan demikian kami berharap nantinya endekwear-Kaos Modifikasi Kain Endek Khas Tradisional Bali dapat bersaing di pasaran local maupun mancanegara.

Proposal 2

Sandang merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, yang merupakan bagian dari kebutuhan primer manusia. Manusia selalu memerlukan sandang untuk mampu melakukan aktivitas dalam hidup kesehariannya. Tanpa adanya sandang manusia tidak akan mampu hidup dengan nyaman  dan beraktivitas dengan baik di dunia ini, melihat situasi dan kondisi cuaca dan iklim dibelahan bumi bagian mana manusia tersebut tinggal. Selain merupakan kebutuhan pokok untuk beraktivitas sehari-hari, namun saat ini sandang dijadikan sebagai mode perkembangan zaman yang silih berganti pada setiap waktu dan menjadi trend di kalangan masyarakat.

Adanya pandangan bahwa sandang dijadikan sebagai trend zaman, membuat semakin banyak bermunculan jenis-jenis sandang. Jenis sandang tersebut dibuat bukan hanya berdasarkan kebutuhan dan fungsinya, melainkan dari segi estetikanya. Saat ini ada hampir ada puluhan ribu designer yang merancang sandang atau busana untuk digunakan oleh manusia. Mereka membuatnya didasari atas berbagai keperluan mempertimbangkan dari segi fungsi dan estetika.

Dari segi fungsi atau keperluan, sandang dibuat berdasarkan kebutuhan pasar dan kondisi tempat dimana manusia melangsungkan hidup dan memakai sandang  tersebut.  Contohnya  bagi  manusia  yang  tinggal  di  daerah  dingin memerlukan jaket dengan bahan kain yang tebal sehingga mampu menahan udara dingin. Sedangkan dari segi estetika, sandang dibuat berdasarkan pesanan orang atau dijadikan sebagai tempat menuangkan kreativitas seni bagi para seniman, khususnya desainer. Contohnya sandang untuk fashion show, dan lain sebagainya.

Estetika sebuah pakaian terkadang dikaitkan dengan budaya-budaya yang berkembang di masyarakat. Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya dengan seni dan budaya. Ini diakibatkan dengan adanya keanekaragaman suku, agama, dan ras bangsa Indonesia. Hal ini menciptakan sebuah percampuran budaya yang kontemporer di Indonesia. Budaya-budaya kemudian mempengaruhi penciptaan corak sandang yang ada di Indonesia.

Bali merupakan salah satu provinsi bagian dari Indonesia yang memiliki budaya yang sangat terkenal di mancanegara. Selain terkenal dengan tempat- tempat wisata yang indah, budaya Bali yang kental dengan seni, nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun menurun serta kolaborasi dengan agama Hindu menciptakan sebuah budaya yang luar biasa dan mengundang mata mancanegara untuk datang dan menyaksikan langsung budaya Bali tersebut.

Kekayaan budaya yang ada di Bali lambat laun kini juga terpengaruhi oleh keadaan zaman globalisasi yang terus merangsek mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, tidak terkecuali kebiasaan atau adat istiadat suatu daerah. Semakin berkembangnya zaman dari segi ilmu pegetahuan dan teknologi (IPTEK) mampu menggeser sedikit demi sedikit budaya atau adat istiadat yang berkembang di masyarakat luas.

Menanggapi hal tersebut sebagai generasi muda penerus bangsa kami mencoba untuk mengembalikan ingatan-ingatan kebudayaan tradisional di era globalisasi ini melalui program kreativitas ini. Kami ingin membuat sebuah benda yang mampu menjadi sebuah tanda ingatan budaya tradisional yaitu berupa Kaos Nuansa Tradisional Bali. Kaos Nuansa Tradisional Bali merupakan sebuah usaha produksi dan pemasaran Kaos berdesain seni tradisional Bali, yaitu seperti patra Bali atau ukiran Bali, barong, tokoh-tokoh pewayangan Bali, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan seni tradisional Bali. Pemilihan penggunaan kaos adalah karena kaos adalah salah satu sandang yang sebagaian besar banyak orang minati dengan fungsinya yang fleksibel. Dengan demikian kami berharap nantinya Usaha Kaos Nuansa Tradisional Bali ini mampu bersaing dengan usaha sandang lainnya yang berkembang di pasaran.

Penelitian 

Berikut ini adalah contoh latar belakang penelitian tentang Penelitian di bidang Pendidikan Simak contoh latar belakang makalah berikut ini.                     

Pembelajaran Bahasa Inggris di pendidikan dasar yaitu sekolah dasar atau dalam bahasa inggris dikenal dengan Teaching English for Young Learners di Nusa Tengggara Barat merupakan salah satu keharusan untuk diberikan sejak dini, karena pengenalan bahasa sejak dini bisa meningkatkan pengakusisian atau pemerolehan bahasa dengan lebih mudah dan lebih cepat. Keterampilan dalam berbahasa Inggris akan sangat berguna dalam mempersiapkan anak-anak bangsa menjadi tenaga kerja yang handal, yang mampu bersaing baik dalam merebut peluang bekerja di dunia pariwisata atau dalam bidang lainnya, dan untuk kemajuan IPTEKS terutama pada era Masyarakat Ekonomi Asia (MEA).  Harmer (2007) mengemukakan pentingnya memperkenalkan bahasa Inggris sejak dini, oleh karena semakin dini usia seseorang diperkenalkan dengan bahasa target, semakin cepat dan semakin bagus penguasaan dan pemerolehan anak terhadap bahasa yang dipelajari.

Walau demikian, fakta menunjukan bahwa pebelajar di Indonesia memiliki minat membaca yang rendah. Data terakhir dari survei UNESCO (Berita Metro, September 2015) melaporkan bahwa dari 1000 penduduk Indonesia, hanya 1 orang saja yang membaca. Lebih lanjut dijelaskan bahwa rendahnya minat baca, salah satunya disebabkan oleh lebih senangnya anak-anak Indonesia menonton sinetron daripada membaca. Mereka lebih banyak mengenal judul sinetron berserta isi ceritanya dibandingkan judul buku. Ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan dalam dunia pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah Nusa Tenggara Barat.

Pada dasarnya, membaca adalah salah satu keterampilan bahasa yang sangat amat penting, karena melalui membaca seseorang sedang membuka cakrawalanya tehadap pengetahuan baru yang dapat kemudian membawanya ke pengetahuan baru lainnya. Sehingga, membaca membuat seseorang khsusunya siswa dapat memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Mengkhusus untuk anak usia dini atau bahkan siswa sekolah dasar, membaca buku cerita memiliki pengaruh yang positif dalam perkembangan kemampuan atau keterampilan membaca siswa (Morrow dalam Mart, 2012).  Agar dapat meningkatkan minat dan ketertarikan siswa dalam membaca, tentu dibutuhkan sebuah bahan bacaan yang berkualitas sehingga mampu memberikan tidak hanya bahan bacaan namun juga hiburan, dan terlebih dari itu adalah nilai moral yang nantinya secara tidak langsung menjadi bagian dari sebuah pendidikan moral untuk bangsa sejak usia dini.

Lebih lanjut, menyajikan cerita-cerita yang berkaitan dengan budaya lokal dimana peserta didik itu berasal akan memudahkan siswa dalam memahami cerita dan termasuk memahami sejarah dari lingkungan budaya dimana mereka berasal. Ini merupakan bagian dari sebuah pengajaran yang sifatnya kontekstual. Alwasilah (2006) menyatakan bahwa topik yang dikenal dapat mengurangi beban kognitif dalam belajar, sehingga pebelajar dapat belajar lebih banyak dalam menggunakan bahasa pada fungsi komunikatifnya. Terlebih lagi bila pelaksanaan membaca didampingi dengan proses dialogic reading akan menambah pemahaman siswa bahkan secara spontan dapat mengembangkan buku cerita dan mengaitkannya dengan hal-hal lain di dalam kehidupan sehingga semakin bersifat kontekstual.

Insersi dari budaya lokal juga sangat penting agar siswa lebih terekpos dengan kebudayaan daerah daripada budaya asing yang mana secara kognitif dan afektif belum siap untuk mereka terima. Tradisi dan budaya lokal secra tidak langsung diajarkan dalam sebuah buku cerita dan pelajaran bahasa khususnya bahasa Inggris dapat dilangsungkan secara bersamaan.

Berdasarkan pemaparan diatas, pada dasarnya yang ingin diwujudkan dalam penelitian kali ini adalah penciptaan sebuah buku cerita Bahasa Inggris yang berbasisis budaya lokal yang dapat meningkatkan minat dan ketertarikan siswa untuk membaca dan menumbuhkan budaya membaca di dalam kehidupan sehari-hari.

Laporan PKL                        

Berikut ini adalah contoh latar belakang laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL).  Simak contoh latar belakang makalah berikut ini.

Melesatnya pertumbuhan industri membutuhkan tenaga-tenaga kerja yang handal untuk mendukung kelancaran proses produksi maupun distribusi sebuah produk, baik dalam bentuk barang ataupun jasa. Tingginya kebutuhan pasar menjadi salah satu penyebab meningkatnya permintaan produksi dalam sebuah industri. Bahkan tingginya permintaan mencapai 80% dari jumlah produksi biasanya. Sehingga kebutuhan akan tenaga kerja baru dan tentunya handal sangat berperan penting dalam meningkatkan proses produksi sebuah industri.

 Penggunaan tenaga magang adalah salah satu daribagian solusi kecil untuk dapat membantu kebutuhan tenaga kerja handal di lapangan. Walaupun masih dalah konteks belajar, tenaga magang atau trainee tentu tidak dapat dianggap remeh. Proses pendidikan yang bersifat berkesinambungan dan terbarukan dapat membantu tenaga-tenaga magang untuk siap bekerja tanpa melalui proses penyesuaian yang lama. Dimana hal ini akan sangat menguntungkan banyak pihak baik dari perusahaan dan pribadi seorang pekerja.

Menyadari akan pentingnya peran dari tenaga magang atau trainee, sekolah memberikan kesempatan bagi siswa yang mengambil jurusan kejuruan untuk mendapat kesempatan yang lebih lama dalam melakukan magang. Terlebih dari itu, hak-hak sebagai pekerja magang hendaknya menjadi perhatian dari pemerintah serta perusahaan karena tidak bisa dipungkiri peran pekerja magang sangat luar biasa bagi perusahaan dimana ia melakukan tugas bekerja dan belajar.

Lebih lanjut, Praktek Kerja Lapangan (PKL) diharapkan mampu menjadi ajang bagi pekerja magang untuk menyelami pengetahuan riil di lapangan. Tidak hanya menjadi pengamat yang hanya diam, dan mengamati apa yang sedang terjadi namun diharapkan mampu ikut terjun di dalamnya dan menjadi salah satu bagian terdepan. Pengalaman boleh jadi nomor satu namun pengetahuan tidak boleh diragukan. Sebagai trainee, pengetahuan adalah hal yang utama, namun tetap harus mencari pengalaman dengan menjalani dan melakukan diskusi-diskusi secara aktif untuk dapat menjadi penggerak dalam setiap tugas yang diemban di lapangan.

Laporan PPL                         

Berikut ini adalah contoh latar belakang laporan PPL. Simak contoh latar belakang makalah berikut ini.

Pendidikan merupakan fondasi kehidupan manusia yang paling penting dalam kelangsungan hidup di abad 21. Perkembangan teknologi yang sangat cepat dan mendunia mengharuskan manusia untuk ikut terjun didalamnya jika tidak ingin tertiggal dan akhirnya menjadi terbelakang. Persaingan dunia yang semakin ketat tersebut tentu membutuhkan keperluan-keperluan tertentu yang salah satunya adalah pendidikan agar dapat bersaing dalam dunia kerja atau membangun dunia kerja sendiri. Sehingga secara umum mampu untuk mengikuti dan bergabung dalam persaingan dunia. 

Pentingnya peran pendidikan menuntut sebuah kualitas pendidikan yang merata dan menjangkau semua kalangan masyarakat. Khususnya di Indonesia, pemerataan pendidikan masih terbilang dalam proses perkembangan. Wilayah yang tediri dari ribuan pulau yang terpisah oleh lautan, dan wilayah daratan yang luas dan sulit dijangkau menjadi salah satu penyebab belum mampunya pelaksanaaan perataan pemerintah. Kemudian, pelaksanaan birokrasi yang masih terpusat di Pulau Jawa juga menjadi pemicu adanya ketimpangan kualitas pendidikan secara keseluruhan di Indonesia. 

Dari sekian permasalahan ini tentu pemerintah yang menjadi objek oeirntasi. Namun, tidak selamanya pemerintah menjadi stakeholder yang haru mewujudkan pemerataan pendidikan. Peran swasta dan masyarakat Indonesia secara menyeluruh dalam membantu pemerintah sangat dibutuhkan. Tanpa adanya sinergi yang baik antara pemerintah, swasta, dan masyarakat Indonesia, akan sulit kiranya pelaksanaan pemerataan pendidikan di Indonesia dilakukan. Peranan dan sinergitas masyarakat pemerintah, lembaga swasta, serta masyarakat akan membantu pelaksanaan program pemerintah sebagai lembaga utama dan pengampu kebijakan di negeri ini. 

Universitas sebagai salah satu sinergi pemerintah baik dengan masyarakat dan lembaga swasta menjadi salah satu dari sekian faktor yang mampu memberikan kontribusi dalam meningkatkan pemerataan pendidikan di Indonesia. Sebagai lembaga yang menjadi panutan dan pedoman dalam menjamin mutu dan kualitas pendidikan, tentu memiliki standar kompetensi tertentu dalam menjalankan sebuah kebijakan pendidikan sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. 

Sebagai salah satu perguruan tinggi yang bergerak dalam bidang penidikan, Undiksha merupakan salah satu universitas yang fokus mencetak pendidik dalam segala bidang pendidikan dan keterampilan. Wujud nyata tersebut dilakukan dengan adanya pelaksanaan penerjunan calon guru ke dunia pendidikan dan pengajaran secara rutin. Hal tersebut dilakukan guna memperkenalkan calon guru dengan lingkungan pendidikan dan pengajaran yang riil dan memberikan kesempatan untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Sehingga hal tersebut diharapkan akan mampu memberikan pengalaman yang cukup untuk seorang calon guru dalam melaksanakan tugasnya nanti dan secara umum membantu pelaksanaan pemerataan pendidikan dan menjaga kualitas pendidikan di Indonesia.

Latar Belakang Bahasa Inggris

Berikut ini adalah contoh latar belakang dalam bahasa Inggris. Dalam makalah berbahasa Inggris latar belakang sering disebut dengan istilah Introduction. Simak contoh latar belakang bahasa Inggris berikut ini.

Assessment is one of the main duty of teacher which is normally used to assess the students’ attainment on the material they learn. According to Butler and Lee (2010), assessment is one of the most important things and goes along learning and teaching process. It becomes essential part of learning due to its important function of assessment.  Based on the purpose, assessment is divided into three types namely, diagnostics, formative, and summative assessments. Diagnostics assessment is a kind of assessment used for diagnosing students’ prior competence to be used for further as reference to conduct teaching and learning process.  The second one is formative assessment, a kind of assessment  conducted along the learning process aimed for monitoring the students’ progress during learning and teaching process, and the last is summative assessment aimed for giving judgment to the students, whether or not the students pass or do not pass the standard that has been set at the beginning of the teaching process(Noonan & Duncan, 2005). Thus, assessment has its own roles depends on when it is conducted and to what extent.  Assessing students with a varied and appropriate assessment will help teacher to conduct the learning process and how the learning must be done in order to form qualified students(Butler & Lee, 2010; Karami & Rezaei, 2015).

Nowadays, the latest curriculum (K-13) applied in Indonesia which emphasizes on the use of authentic assessment. Authentic assessment is a kind of assessment which is used to assess students’ real performance(Wiggins, 1990;  Azim, 2012) that results better quality of outcomes.  However, preliminary observation in SMA Lab Singaraja, one of Senior High School in Singaraja found that there is a lack of using authentic assessment. Teachers still remains to use traditional assessment which they think more effective to teach the students. It allows teachers to assess a number of material in a short period of time(Stoiber & Vanderwood, 2008). Its simplicity become one of the most alternative due to the limited time allotment for assessing the students.

This tendency makes teacher still use traditional assessment though it has been applied curriculum 2013 emphasizing on the use of authentic assessment. In order to reveal the students’ performance of a subject mastery. There are so many kinds of authentic assessments, such as self-assessment, peer assessment, etc. Peer assessment is one of the best assessments used in high school because of the cooperative learning shown by students(Falchikov, 1991).

Regarding this tendency, an experimental research to prove that authentic assessment brings positive effects in increasing the students’ English proficiency is proposed. Peer-Assessment (PA) is part of authentic assessment used to assess the students’ real performance. It is really important to assess the students’ real ability since it will be used to measure how success the learning process has been conducting. It requires the students’ awareness and capability in order to be able to give an appropriate and specific feedback for a particular performance of their friends. The capability of understanding basic principle of being assessor must be mastered by students to avoid subjectivity and inappropriate comment that might stimuli negative impact for students’ achievement. Moreover, implementation of peer assessment will help students to be able to assess other students (Yurdabakan, 2012).

Previous research has been proved that the implementation of peer assessment has positive effect to students’ English achievement. Sadeghi and Khonbi (2012) conducted a research implementing peer assessment on Iranian University EFL students and they found that there was significant positive effect to the student’ English achievement. In the recent years, Alias, Masek, and Salleh (2015) and Setiawan (2016) conducted a same study of implementing peer assessment in college students and it revealed a positive effect on the students’ achievement. 

In regards to those proven fact, the researcher wants to implement peer assessment in teaching and learning process of Eleventh grade at SMA Lab Singaraja and further investigate whether there is a significant effect to the students’ English learning achievement or not. It considers as important to conduct this study since this kind of study is rare conducted in Indonesian context especially in North Bali.

Contoh Latar Belakang Bahasa Inggris lainnya

It should be noted that there are some differences between adult and young learners in the process of learning (Finn, 2011; Mcdonough, 2013).  One of them is influenced by the development of psychology between adult and young learners. Adults who are more self-directed mostly tends to learn individually and possible to collaboratively share their ideas, and need colleagues to accompany along the process of learning. Unlike adults, young learners tend to need accommodation from teachers, they need a warm, supportive, and secure environment to get them involved in learning process (Padmadewi, 2014). Young learners especially children need to be assisted, showing which one is good or bad and which one is correct or incorrect. There is parental assistant needed by children. On the other hand, adults do not to be told the right or the wrong one. They need colleagues for sharing their ideas, opinions, or thoughts toward something. It is no longer about stage of choosing but stage of arguing (Mcdonough, 2013).

The next difference is on how children and adults acquire their knowledge (Mcdonough, 2013). Children will tend to receive everything given by teacher, they will go with rule and everything they have given by teacher. Meanwhile, adult will not do that. Most of adult will creatively create something collaborating the instruction and their creativity in it. However, for some cases, they will get lost by the instruction. It is kind of bias in classroom. Thus, it is very important to consider students’ developmental process in relation to applying techniques or strategy of teaching in classroom. Moreover, the prior knowledge also influences on how they learn, in which adults is more prior knowledge than children (Mcdonough, 2013). It is an important consideration to understand prior knowledge of students in order to be able to serve better treatment for students.   

The next issue is there is a tendency of teacher-oriented assessment (Anker-Hansen & Andrée, 2015). Teachers still play most role of assessing students’ achievement. The progress of students should be seen from other perspective such as peer. It should be noted that, critic and suggestion from other students or peer will be beneficial for the students’ progress in learning. This is because of the peers as assessors feel the same thing with the students. They might have a same experience and felling towards something. Thus, assessed by peer must be considered as an alternative assessment (Iraji, Enayat, & Momeni, 2016). This alternative might decrease the tendency of teacher assessment oriented.

Topping (2000) as cited in Orsmond (2004) defines “peer assessment as arrangement of peer to consider level, value, worth, quality, or successfulness of product or outcomes of learning of others students in similar status”. Further, Spiller (2012) defines peer assessment as “involvement of students to provide feedback to other students’ work”. For some cases, peer also includes the process of assigning grade or score for other students.   Moreover, Karami and Rezaei (2015) defines peer assessment as a process of assessing or judging by the students to their peer both quantitatively or qualitatively that stimulus them to reflect, to discuss, and to collaborate together. Peer assessment emphasizes the objectivity of the peers thus peers play important roles in doing this assessment. That is why peer assessment is called as students-oriented assessment, a kind of assessment which requires the ability of other students to provide an objective feedback in the process of assessing and evaluating (Spiller, 2012). Students value constructive feedback from their peers, because they think that there is a need to know how the other see ourselves from their point of view (Nortcliffe, 2012).

Thus, it can be synthesized that peer assessment helps students to be objective and fair assessing their peer and teacher-oriented assessment can be decreased and later it will help them to learn in collaboratively. Further, Orsmond (2004) reveals several key terms of peer assessment. There are several key points as well as the main characteristics of peer assessment. The first one is students centered. Involving students to participate actively is one of characteristics of this assessment. It requires the students/peers to give feedback to their friends’ performance. Hence, it tends to make students play more roles in classroom, not only as students, but also play new role as assessor. The second one is transparent criteria. Due to the students are new in assessing. Teacher will introduce the criteria or aspects that will be assessed. In order students have a same standard in giving feedback to their peers. The next one is students empowered. Having a new role as assessor is a kind of new responsibility for the students. It will challenge the students, because they are also responsible for their friends’ learning progress. The next one is encouraging deep learning. As an assessor, students need to dig more about the subject matter that is being concerned. Their deep understanding will help to assess their friends objectively. The fifth one is formative feedback. Peer assessment is absolutely a kind of formative feedback which goes along the progress of students learning and monitoring the students along the learning and teaching process. In which it forms the students to be better in certain fields of study (Nortcliffe, 2012). The last one is enhancing students’ performance. The feedback is clear containing reason, strength, and weakness. This will allow the student to do some reflection and improvement on certain points which have been pointed out by the feedback given.

According to Dillenbourg (2007) collaborative learning is a situation in which there are some people engaged talking and sharing  a certain topic or concept. Todays, collaborative learning is really important for students (Van Aalst, 2013). In collaborative learning is more likely to be a sharing session of ideas, thoughts, and opinion among group of students. The sharing requires critical thinking to trigger question and answer for filling the group discussion. There are some techniques used in collaborative learning such as think-pair-share, reciprocal teaching, think-aloud pair problem solving, group grid and group writing assignment (Stacey, 1999). Those techniques are employed in a group discussion, students are asked to create their group consisting several students. Later the students are given task through some techniques mentioned before. Adult with a self-directed learning will encourage themselves to think critically toward a concept or problem given, later interaction will be made in a group. Group will force them to share their thinking, adult with capability of socializing will collaborate and asking one and another perspective to generate a conclusion toward a concept or problem.

There has been some contradiction related to the exact years of adult learners. According to Lakin, Mullane, & Robinson (2007) adults are students over 50 years old. Another source from Elftorp & Lhearne (2014) adults occurs in the age of over 16 years old. Further, adult is identified as students of undergraduate or graduate or over than 25 years old (Newbaker, 2012). Although those perceptions are difference, in this research adults are identified as students who are 16 years old and more or still in high school. For adults, there is a special terminology used to refer to their educational psychology of learning namely andragogy. Andragogy was first introduced by Malcon Kowles in 1973, it bases the learning theory of adult learners that can make them learn effectively and differs from children (Newbaker, 2012). There are five assumptions grounding the andragogy. First, adult learners’ independent self-concept and ability to direct their own learning. Second, an adult accumulates a growing reservoir of experience, which is a rich resource for learning. Third, the readiness of an adult to learn is closely related to the developmental tasks of his or her social role. Forth, “there is a change in time perspective as people mature from future application of knowledge to immediacy of application. Thus, an adult is more problem centered than subject-centered in learning. Last, adults are motivated to learn by internal factors rather than external ones. The important assumption that needs to take into account is the first one. Through self-directed, adult learners will be able to find or to create collaboration in learning. They will define what are their needs and fulfilled the needs with self-efforts or collaborate with their peers.

The learners especially adults need to collaborate and work cooperatively. Source of ideas is not merely from reading or environment notification, but also coming from sharing with peers. Because of the same age or developmental process, they can suggest each other based on their experiences and feelings. Further this paper is intended to describe how peer assessment and collaborative learning are able to create sense of trust, honest, fair as peer assessor which is further influenced to students’ achievement in EFL classroom of adult learners.  

Itulah berbagai contoh latar belakang makalah, contoh latar belakang proposal, penelitian, dan laporan PKL & PPL. Semoga contoh latar belakang diatas dapat membantu kalian dalam menyelsaikan tugas-tugas kalian ya. Namun tetap ingat jangan sampai melakukan plagiarisme. Sekian, terima kasih.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *